Jumat, 09 Juli 2010
Pelanggaran Etika Jurnalistik
Sudah Besarkah Pelanggaran Etika Jurnalistik yang Telah Dilakukan Wartawan Infotainment Indonesia (Sehingga Harus Diberangus)?
Ditulis oleh Mita Matinah / 20070530040
Masih teringat dalam benak saya, hari Kamis pagi sekitar jam 06.30, acara yang langsung saya lihat di layar televisi adalah acara gossip Was-Was . Sang presenter langsung membawakan berita tentang kasus twitter Luna Maya, kekasih Afghan, dan hubungan Aldi Bakri – Nia Ramadhani. Saya sengaja tidak memindahkan channel tersebut karena ada berita artis yang saya sukai yaitu Luna Maya dan Nia Ramadhani. Saya pun menonton tayangan berita tersebut dan mendengar narasi dari sang presenter. Ada hal yang menarik sekaligus kesal ketika menonton tayangan tersebut, khususnya pada tayangan Luna Maya (LM) dan Nia Ramadhani (NR).
Dalam narasi dijelaskan bahwa kata-kata LM yang mengejek para wartawan infotainment dalam status twitternya telah mengundang kemarahan para wartawan infotainment. Mari kita lihat kronologis tayangan : LM keluar dari gedung bioskop sambil menggendong Alea, kemudian para wartawan sudah berkumpul di depan pintu karena pada saat itu LM sedang bersama keluarga Ariel. LM menggendong Alea menuju mobil sambil berkata kepada wartawan yang menghalanginya,
“Sebentar ya mas, saya bawa Alea dulu ke mobil… Nanti kita bicara di ruang lobby.”
“Kasian kan mas ada anak kecil disini, tolong ya mas-mba.”
Namun sayangnya ada salah satu kamera yang menyenggol kepala Alea, dan jelas sekali wajah LM kesal pada saat itu (sampai menggunakan slow motion ). Saya juga kalau jadi LM pasti kesal, apalagi di depan camer .
Lalu tayangan NR saat menemani Aldi Bakrie bermain Basket, disitu jelas-jelas NR berkata kepada wartawan,
“…eh, udah dulu ya mas… aku mau kedepan sebentar, dipanggil Aldi… Tolong minggir sebentar ya…?”
Namun para wartawan tetap saja menyodorkan microphone beserta sorotan kamera kearah NR, saya jadi kasihan melihatnya. Padahal NR sudah permisi dengan nada dan wajah yang sopan, tetap saja terhalang para pencari berita.
Melihat dua tayangan tersebut saja, saya sudah connect dengan adanya pelanggaran Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang dilakukan wartawan infotainment.
Kemudian tayangan siapa kekasih Afghan yang jelas-jelas bukan fakta. Narasi yang dibacakan lebih terkesan ‘mengompori’ sang narasumber, ditambah gambar-gambar kedekatan Afghan dan tersangka kekasihnya yaitu Olivia Janson. Saat ditanya kabar tersebut, Afghan tersenyum dan menjawab, “Kami hanya rekan biasa… itu saja.” Namun tetap saja sang wartawan bertanya lebih lanjut lagi seakan tidak puas.
Berbicara tentang adanya pelanggaran etika profesi, ya, ada beberapa pelanggaran etika profesi wartawan dalam tayangan tersebut. Bagaimanapun artis yang menjadi narasumber adalah warga negara Indonesia yang perlu dilindungi hak hidup dan privasinya. Adapun pelanggaran yang dilakukan dapat kita lihat dalam beberapa pasal KEJ, yaitu:
a. Pasal 2 - Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
Pembahasan : dengan menghalangi sang narasumber (LM dan NR) untuk melakukan aktivitas mereka terlebih dahulu, wartawana infotainment sudah bersikap tidak professional bahkan mengganggu privasi sang narasumber.
b. Pasal 8 - Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka.
Pembahasan : Pemberitaan siapa kekasih Afghan sudah tentu masih prasangka, Afghan sampai tertawa saat ditanya tentang jalinan hubungannya dengan Olivia Janson. Padahal mungkin kedekatan mereka dulu hanya untuk bisnis, buktinya sekarang Olivia Janson menjadi artis dalam video klip terbarunya lagi.
c. Pasal 9 - Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
Pembahasan : Status yang ditulis LM dalam akun twitter miliknya merupakan bagian dari kehidupan pribadinya, luapan dari emosi yang disebabkan kelalaian kameramen. Kita tidak bisa mencegah atau mengatur bagaimana seharusnya LM meluapkan emosinya.
Kasus diatas hanya sebagian kecil dari beberapa pelanggaran yang dilakukan wartawan infotainment. Jika kita ulas lebih dalam tentang tayangan infotainment pasti akan banyak sekali kasus pelanggaran KEJ yang terjadi, khususnya yang berkaitan dengan pasal 1, 2, 3, dan 4. Tayangan-tayangan seperti kasus perceraian, pertanyaan yang tidak terlalu penting bagi publik, sampai eksekusi barang-barang pribadi artis merupakan hal-hal yang dianggap melampaui ranah privasi bahkan menjadi ‘sampah informasi’ bagi publik. Padahal jika kita lihat dari kata infotainment, merupakan gabungan kata dari information – entertainment. Information merupakan berita, informasi yang bermanfaat bagi khalayak, dan entertainment merupakan hiburan yang dapat menarik perhatian khalayak. Infotainment seharusnya dapat memberikan informasi hiburan yang menarik dan bermanfaat bagi publik / khalayak, bukannya informasi hiburan yang memberi efek negatif bagi publik.
Meskipun mereka adalah wartawan infotainment, tetap saja pekerjaan yang mereka lakukan adalah profesi dan mereka adalah bagian dari wartawan Indonesia yang sudah seharusnya mentaati kode etik profesi yang berlaku . Ketegasan dari pihak yang berwenang seperti Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Dewan Pers seharusnya lebih ditingkatkan untuk menanamkan nilai-nilai etika jurnalis yang sesuai dengan aturan KEJ dan UU Pers. Karena jika pelanggaran ini terus diabiarkan, suatu saat akan berdampak buruk bagi image wartawan infotainment itu sendiri khususnya pada kebenaran informasi yang mereka sampaikan (Pasal 1, KEJ - Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk).
Lampiran: Kode Etik Jurnalistik
Pasal 1
Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Pasal 2
Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.
Pasal 3
Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.
Pasal 4
Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.
Pasal 5
Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Pasal 6
Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.
Pasal 7
Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.
Pasal 8
Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.
Pasal 9
Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.
Pasal 10
Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.
Pasal 11
Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.
Manajemen Pelayanan Publik
- Arus informasi dan komunikasi yang tidak merata. Sehingga dimungkinkan ada kebijakan-kebijakan dari manajemen yang tidak tersampaikan kepada seluruh karyawan. Karena arus informasi dan komunikasi yang merata ini pula penyebab Gap seringkali terjadi.
- Pemerintah dan organisasi swasta kurang memperhatikan dan meningkatkan strategi pelayanan dengan manajemen jasa modern. Strategi ini biasa disebut 7 (tujuh) P, yaitu: Product, Price, Place, Promotion, Phisical evidence, Proses desain, Participants (Gaspersz, 1997). Padahal, agar pelayanan aparatur pemerintah dapat lebih memuaskan masyarakat, dituntut memahami strategi 7P diatas. Disamping itu, kriteria yang mencirikan yang pelayanan, semua aparatur pelayan dituntut untuk memahami visi, misi dan standar pelayanan prima.
- Kurangnya pembenahan dan peningkatan dalam struktur organisasi, kemampuan sumber daya manusia, dan sistem pelayanan. Tidak sedikit organisasi yang hanya ‘melakukan pekerjaan seadanya yang penting gaji turun’. Banyak organisasi yang anggotanya masih acuh tak acuh dan mengandalkan orang lain.
Beberapa contoh penghargaan terkait dengan manajemen pelayanan publik:
a. Pemerintah :
- Pemerintah kota Mataram. Mereka berhasil meraih penghargaan piala Citra Bhakti Abdi Negara, pada bidang pelayanan publik secara menyeluruh di Kota Mataram. Penghargaan tersebut diserahkan pada kamis 11 Februari di Istana Merdeka Jakarta.
- Pemerintah kota Banda Aceh. Mereka pun memperoleh penghargaan Citra Bhakti Abdi Negara bidang peningkatan pelayanan publik.
- Pemerintah provinsi Kalimantan Timur. Pelayanan Publik berupa Penyelenggaraan Akuntabilitas Kinerja Terbaik Instansi Pemerintah tingkat Provinsi pada 11 Februari 2010.
b. Swasta :
- PT Unilever Indonesia, Tbk. Mereka menerima penghargaan World Customs Organization (WCO) Certificate of Merit, sebuah penghargaan internasional atas kontribusi PT Unilever Indonesia, Tbk. terhadap pengembangan sistem pelayanan informasi perusahaannya kepada publik.
- Bank Syari’ah Mandiri (BSM). Mereka meraih Indonesian Bank Loyalty Index 2008 pada tanggal 01 Januari 2008 dari InfoBank bekerja sama dengan MarkPlus Insight. BSM meraih nilai tertinggi di antara semua bank Syariah (BUS & UUS) dalam layanan kepuasan nasabah melalui lima Customer Index tersebut BSM untuk di: Customer Transaction Index; Customer Relationship Index; Customer Partnership Index; Customer Satisfaction Index dan Overall Loyalty Index.
- Maskapai penerbangan Singapore Airlines. Mereka meraih penghargaan Service Quality Award dari Carre-Center for Customer Satisfaction and Loyalty atas pelayanan yang memuaskan bagi pelanggannya pada tanggal 7 Mei 2009.
Referensi
Buku :
Gaspersz, Vincent. 1997. Manajemen Bisnis Total dalam Era Globalisasi. Jakarta : Gramedia.
Dwiyanto, Agus. 2007. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. Yogyakarta : UGM Press.
Internet :
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=88989:pemkab-aceh-tengah-peroleh-penghargaan-pelayanan-publik&catid=13:aceh&Itemid=26
http://www.globalfmlombok.com/content/kota-mataram-meraih-penghargaan-pelayanan-publik
http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1265865905/penghargaan-pelayanan-publik
http://www.unilever.co.id/id/ourcompany/beritaandmedia/beritaterbaru/WCO.asp
Survei Brand Awareness Omus Clothing pada Mahasiswa Fisipol UMY 2010
Kehidupan manusia di dunia memiliki beberapa kebutuhan dasar yang harus dipenuhi guna kelangsungan hidup mereka. Kebutuhan tersebut seperti pangan, sandang, dan papan. Sebagai unsur yang berada pada posisi prioritas kedua, pakaian menjadi hal yang juga penting untuk dipenuhi manusia. Manusia membutuhkan pelapis tubuh agar terlindung dari hawa dingin dan panasnya suhu bumi. Seiring dengan berkembangnya zaman ke arah yang lebih modern, juga luasnya kebutuhan manusia akan sandang, semakin membuat para pelaku bisnis di dunia menciptakan berbagai model dan karakter dari pakaian itu sendiri dengan menyesuaikan kultur, lingkungan bahkan aturan berpakaian dalam setiap agama. Setiap manusia memiliki pilihan masing-masing dalam memilih mana pakaian yang cocok untuk mereka. Salah satu cara mereka mengenali produk pakaian tersebut melalui merk (brand). Mereka mengingat brand pakaian yang terkait, yang kita kenal dalam konsep Brand awareness.
Brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produk tertentu (Aaker, 1997). Tingkat yang paling rendah, pengenalan merek, didasarkan pada suatu tes pengingatan kembali lewat bantuan. Pada responden, diberi sekelompok merek dari kelas produk tertentu dan diminta untuk mengidentifikasi produk-produk yang pernah mereka dengar sebelumnya. Pengenalan merek adalah tingkat dari kesadaran merek. Ini penting khususnya ketika seorang pembeli memilih suatu merek pada saat pembelian. Tingkat berikutnya adalah pengingatan kembali merek (brand recall). Pengingatan kembali merek didasarkan pada permintaan seseorang untuk menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk, ini diistilahkan dengan ‘pengingatan kembali tanpa bantuan’ karena berbeda dengan tugas pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk memunculkan merek tersebut. Pengingatan kembali tanpa bantuan adalah tugas yang jauh lebih sulit daripada pengenalan dan ini memilki asosiasi yang berkaitan dengan posisi suatu merek yang lebih kuat. Tingkatan dalam brand awareness ini digambarkan melalui suatu piramida.
(Sumber : Hermawan Kartajaya, 1996)
Merek yang disebutkan pertama dalam suatu tugas ‘pengingatan kembali tanpa bantuan’ berarti lebih meraih kesadaran puncak pikiran (top of mind awareness), suatu posisi yang istimewa. Merek tersebut menjadi pimpinan dari berbagai mereka yang ada dalam pikiran seseorang. Hal-hal yang dapat meningkatkan kesadaran diantaranya: Berbagai kegiatan yang disponsori, publisitas, penampakan, symbol dan penggunaan perluasan merek (Aaker, 1997)
Di Indonesia sendiri, semenjak memasuki era globalisasi dan dengan beranekaragamnya budaya serta agama yang ada, menjadi awal dari munculnya berbagai tempat usaha yang menawarkan berbagai jenis dan model pakaian. Dari mulai toko pakaian di pasar, distro bahkan sampai butik baju terkemuka semuanya ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sandang tersebut. Bahkan segmentasi yang ditawarkan para pengusaha pakaian mulai meluas. Misalnya, dengan mayoritas jumlah penganut agama islam yang ada di Indonesia membuat toko-toko pakaian muslim berjamuran di hampir semua pusat perbelanjaan. Ditambah lagi dengan kemajuan trend, pakaian muslim pun sudah mulai berubah meninggalkan ciri konvensional yang dulu diterapkan oleh sebagian besar masyarakat islam.
Artinya dengan didukung kemajuan trend dan teknologi, maka masyarakat semakin kritis dan kreatif dalam memadupadankan busana. Namun harus dipahami pula, variasi desain pakaian muslim yang lebih modern seperti akhir-akhir ini tidaklah mengubah nilai-nilai islam tentang cara berpakaian yang baik. Sebagai contoh, pada masa lalu, busana muslim pria dan wanita identik dengan baju koko dan gamis, akan tetapi dewasa ini semua berubah menjadi lebih casual dan up-to-date serta tetap dalam ranah nilai-nilai Islam, seperti tidak ketat dan membentuk lekukan pada tubuh.
Berdasarkan beberapa hal diatas, dapat kita ketahui bahwa kreativitas dan inovasi pakaian muslim sudah jauh berbeda dengan masa sebelumnya, khususnya yang dikenakan para remaja di Indonesia. Remaja muslim sekarang tidak malu lagi untuk menutupi aurat bahkan mereka bangga dengan cara berpakaian yang santun namun tetap mengikuti trend sesuai berkembangnya zaman. Selain itu, faktor-faktor diatas juga justru membuat banyaknya bibit-bibit unggul para designer muda Indonesia dalam menciptakan sebuah konsep busana yang menarik. Hal tersebut sungguh menjadi sesuatu yang luar biasa dan patut untuk dikembangkan ke arah yang positif.
B. ISU
Dengan berkembangnya pemikiran masyarakat tentang gaya busana remaja yang menarik namun tidak meninggalkan nilai-nilai agama ataupun budaya, membuat Omus sebagai salah satu badan usaha di ranah konveksi muncul untuk mewujudkan keinginan masyarakat muslim, khususnya bagi kaum remaja. Bermodalkan isu tersebut, perlahan-lahan Omus hadir untuk menawarkan berbagai jenis dan model pakaian muslim yang bernafaskan anak muda lewat taglinenya ‘Muda, Muslim, Merdeka’.
Beberapa keunggulan pun diperlihatkan Omus yang baru berumur 2 tahun itu dalam memperkenalkan diri sebagai sebuah produk busana muslim yang berbeda dari brand lainnya. Hal yang menjadi cirri khas produk ini adalah dengan menggunakan bahan dasar kaos, memamerkan desain-desain yang kreatif, juga mencantumkan pesan-pesan islami pada design produknya. Hal tersebut dianggap menjadi senjata utama mereka dibandingkan brand lainnya. Untuk melancarkan penjualan, Omus senantiasa mengatur strategi pemasaran.
Salah satu strategi tersebut adalah dengan menjadi sponsor acara Broadcaster Award#2 di UMY (29 Maret – 1 April 2010). Selain itu, mereka pun merekrut beberapa mahasiswa/i di Jogja untuk menjadi model dari produk pakaian mereka. Dan sejauh ini upaya mereka tersebut dapat dikatakan cukup berhasil untuk menarik target pasar. Hal itu terbukti dengan adanya 2 buah cabang Omus di kota Yogyakarta ini.
C. KESIMPULAN
Berdasarkan data yang telah kami himpun melalui survey questioner yang kami bagikan ke 3 (tiga) jurusan, yaitu Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional, dan Ilmu Pemerintahan UMY, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat aware mahasiswa/i Fisipol terhadap brand Omus lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengetahui merek Omus (57 : 46).
Hal itu terbukti dari jumlah keseluruhan kuesioner yang telah kami bagikan pada responden ketiga jurusan tersebut. Untuk jurusan Ilmu Komunikasi, dari jumlah 43 responden terdapat 30 responden yang mengetahui Omus. Dari jurusan Hubungan Internasional, terdapat 15 dari 29 responden yang juga mengetahui Omus. Dan jurusan Ilmu Pemerintahan 12 dari 28 total responden mengetahui Omus.
Bila disimpulkan lebih lanjut, dari 103 responden mahasiswa Fisipol UMY terdapat 55% yang aware terhadap brand Omus dan 45% non-aware terhadap brand Omus. Dengan kata lain, salah satu strategi brand awareness yang dilakukan oleh Omus melalui event Broadcaster Award#2 lalu dapat dikatakan berhasil.
Etika Komunikasi Bisnis
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
Jika kita berbicara tentang etika komunikasi bisnis, maka kita tidak akan lepas dari bahasan tentang etika komunikasi dan etika bisnis; dimana masing-masing bidang memiliki penjelasan tersendiri. Etika komunikasi dapat dikatakan sebagai serangkaian prinsip dasar atau aturan dalam melakukan komunikasi, yang mencakup seluruh komponen proses komunikasi. Sedangkan yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat.
Jika kita gabungkan, etika komunikasi bisnis adalah serangkaian prinsip dasar atau aturan komunikasi yang dilakukan dalam berbisnis. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil (fairness), sesuai dengan hukum yang berlaku (legal) tidak tergantung pada kedudukani individu ataupun perusahaan di masyarakat.
Etika komunikasi bisnis tidak jauh berbeda dengan etika dalam berkomunikasi. Setiap perusahaan memiliki etika komunikasi bisnis masing-masing, sehingga memiliki aturan dan poin etika yang berbeda. Namun tidak seperti etika bisnis, biasanya etika komunikasi bisnis tidak ditulis secara resmi oleh setiap perusahaan. Perusahaan hanya membuat etika bisnis sehingga implementasinya mempengaruhi cara komunikasi bisnis mereka. Perusahaan besar seperti PT. Telkom, PT. Indosat, dan Worldcom. memiliki peraturan perusahaan yang sangat ketat sesuai dengan ketentuan dari Sarbannes Oxley (badan resmi yang menetapkan ketentuan dan peraturan untuk perusahaan), termasuk etika bisnis yang dimuat dalam situs web resmi mereka. Jika kita perhatikan lebih cermat, ada beberapa poin etika bisnis yang berhubungan dengan etika komunikasi bisnis mereka. Seperti dalam etika bertransaksi PT. Indosat dalam bab transparansi informasi.
Semoga bermanfaat.
Senin, 28 Juni 2010
ANALISIS RESEPSI IBU RUMAH TANGGA ATAS ADEGAN KEKERASAN DALAM “TAYANGAN OPERA VAN JAVA (OVJ)” TRANS 7
Dari sekian banyak tayangan komedi di televisi, ada satu tayangan yang hingga saat ini menduduki rating tinggi yang diminati atau ditonton masyarakat Indonesia, tayangan tersebut adalah Opera Van Java (OVJ) di Trans 7. Menurut www.indorating.com, acara OVJ menduduki peringkat kedua dalam rating acara televisi ber-genre komedi dengan nilai overall 4.82 berada di bawah Tawa Sutra (ANTV) 5.0, di atas di atas Abdel dan Temon (Global TV) 4.0 dan Suami-suami Takut Istri (Trans TV) 3.78. Rating yang cukup tinggi ini terbukti pada dinding facebook Opera Van Java, di mana sudah terdaftar 427.783 penggemar. Begitu juga dengan facebook milik Aziz Gagap (salah satu pemain OVJ) dengan memiliki 21.371 penggemar (www.indorating.com, akses 25 Mei 2010).
Namun, perlu kita perhatikan di sela-sela adegan yang ditayangkan selalu mengandung tindak kekerasan seperti mendorong hingga jatuh, memukul, menjatuhkan seseorang, hingga menjambak; yang semua adegan itu dioles dengan canda atau dengan menggunakan styrofoam. Jika semua penonton pada saat itu adalah orang dewasa, mungkin tidak akan menjadi masalah jika adegan tersebut ditayangkan. Karena tingkat pemahaman orang dewasa dapat mengerti jika adegan kekerasan tersebut merupakan lawakan atau yang dulu dikenal dengan lawakan slapsticks (komedi yang menggunakan adegan fisik). Sekarang kita lihat pada jam tayang OVJ yang dimulai sejak jam 20.00 WIB, pada jam tersebut masih banyak anak-anak yang menonton TV sehingga timbul kekhawatiran adanya imitasi adegan tersebut dalam dunia nyata.
Sebagai orang tua, seorang ibu rumah tangga dapat berperan sebagai pengatur rumah tangga, ibu dan pendidik bagi anak-anaknya (Kartini Karono, 1977). Termasuk tugas bagi seorang ibu harus memiliki perhatian yang lebih intens dalam memberikan asupan tayangan yang tidak membahayakan bagi anak dan keluarganya.
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah resepsi ibu rumah tangga atas tindak kekerasan dalam tayangan “Opera Van Java” Trans 7?
C. Kerangka Teori
1. Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (Rakhmat : 2007, 188). Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa dapat ditempuh melalui media yang dikonsumsi banyak orang seperti televisi, Koran, majalah, radio, dsb. Dalam pandangan Elizabeth – Noelle Neuman kemudian membedakan komunikasi massa dengan komunikasi interpersonal, yaitu:
a. bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis.
b. bersifat satu arah (one flow communication), artinya tidak ada interaksi antarpeserta komunikasi.
c. bersifat terbuka, artinya ditujukan kepada publik yang tidak terbatas dan anonim.
d. memiliki unsur publik yang secara geografis tersebar ( Junaedi : 2007, 17).
Efek Media Massa
Pada umumnya, setiap penelitian mengenai komunikasi massa selalu didasarkan pada asumsi bahwa media massa memiliki efek. Carl I Hovland dan Deffleur secara terpisah menyebutkan bahwa efek atau dampak yang ditimbulkan oleh komunikasi massa dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada diri khalayak umumnya dibedakan dalam:
1) efek kognitif (berhubungan dengan pengetahuan atau opini) yaitu perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipercaya oleh khalayak.
2) efek afeksi (berhubungan dengan sikap atau perasaan) yaitu perubahan apa yang dirasakan disenangi, atau dibenci khalayak.
3) efek behavior (berhubungan dengan perilaku). Dampak ini merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati, yaitu melalui pola-pola tindakan kegiatan atau kebiasaan yang berlaku (Wiryanto : 2000, 39).
Hal ini menunjukkan bahwa apapun media yang digunakan dalam kaitannya dengan komunikasi massa memiliki efek tertentu bagi khalayaknya.
2. Media
Marshall McLuhan : “media, apart from whatever content is transmitted, impact individual and society.” (Media, terpisah dari apapun kandungan yang disebarkan, mempengaruhi individu-individu dalam masyarakat), teori tersebut kemudian lazim dinamakan sebagai teori medium. (Littlejohn : 1996)
Hal ini menerangkan bahwa apapun media yang dapat menginformasikan sesuatu mempunyai pengaruh kepada khalayak penontonnya. (Littlejohn : 1996, 326)
3. Televisi
Televisi berasal dari dua kata yaitu ‘tele’ (Yunani) yang berarti jauh dan ‘visi’ (Latin) yang berarti penglihatan. Dalam bahasa Inggris televisi berarti dengan melihat jauh, yang diartikan dengan gambaran dan suara di produksi di suatu tempat dan dapat dilihat melalui perangkat penerima.
Heinich dan kawan – kawan (1982), mengemukakan bahwa istilah media sebagai perantara yang mengantar informasi antar sumber dan penerima. Jadi foto, film, radio, rekaman audio gambar yang diproyeksikan dan sebagainya adalah media komunikasi, termasuk televisi. Darwanto S. Subroto dalam bukunya Televisi Sebagai Media Pendidikan mengatakan ada beberapa manfaat adanya televisi yaitu:
a. sebagai media berita dan penerangan
b. sebagai media pendidikan
c. sebagai media hiburan
d. sebagai media promosi
4. Encoding / decoding
Paradigma encoding / decoding sangat terpengaruh pada awal perkembangan penelitian khalayak. Riset khalayak menurut Stuart Hall (1973) mempunyai perhatian langsung terhadap analisis dalam konteks social dan politik dimana isi media diproduksi (encoding) dan konsumsi isi media (decoding). Encoding dilakukan oleh para ahli media dalam pembuatan pesan-pesan media dan decoding oleh khalayak saat pesan-pesan tersebut diterima.
Paradigma encoding dan decoding membiarkan para khalayak untuk membangun dan melawan pesan-pesan media, sehingga makna berada diantara hubungan khalayak dengan teks. Stuart Hall memfokuskan dirinya pada teori reception yang membahas masalah bagaimana orang memahami teks-teks media dengan menggunakan tiga metode hipotesis decoding yang dapat menyebabkan pembaca mengadopsi posisi yang berbeda, yaitu:
“Stuart Hall mengajukan tiga macam kode yang biasanya diikuti yaitu: dominant code, negotiated code, dan oppositional code. Dalam kode dominan, penonton menerima makna-makna yang disodorkan oleh tayangan. Dalam kode negosiasi, penonton tidak sepenuhnya menerima makna-makna yang disodorkan tapi mereka melakukan negosiasi dan adaptasi sesuai nilai-nilai yang dianutnya, sementara kode oposisi, penonton tidak menerima makna yang diajukan dan menolaknya”
5. Kekerasan dalam Tayangan Televisi
a. Definisi Kekerasan
Kekerasan mengilustrasikan sebuah aturan social, pelanggaran aturan dan reaksi social terhadap pelanggaran aturan yang rumit dan sering kali bertentangan (Santoso, 2002:10).
Kekerasan juga diartikan sebagai satu perlakuan dengan cara pemaksaan maka dapat dikatakan sebagai pelaku kekerasan (Piliang, 2004:244).
Kekerasan pada dasarnya adalah semua bentuk perilaku, baik verbal maupun non-verbal, yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, terhadap seseorang atau sekelompok orang lainnya, sehingga menyebabkan efek negative secara fisik, emosional, dan psikologis terhadap orang yang menjadi sasarannya (Hayati, 2000:29).
Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa kekerasan adalah suatu perlakuan yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah orang yang berposisi kuat terhadap orang yang berposisi lemah dengan berdasarkan kekuatan fisik maupun verbal dan pemaksaan yang memilki makna tertentu bagi pelaku kekerasan tersebut.
Media massa pun tidak lepas dari alat transformasi kekerasan melalui berbagai macam tayangan dan program yang dimilikinya. Media massa dapat mengajarkan kepada khalayaknya, sehingga secara tidak langsung dapat menuntun mereka kepada perilaku kekerasan yang sesungguhnya, yakni melalui imitasi dan identifikasi tindakan agresif si tokoh. Lebih dikhawatirkan lagi, dalam jangka waktu panjang penonton akan menjadi terbiasa dengan tindak kekerasan, sehingga dalam praktek di dunia nyata tindak kekerasan merupakan hal yang biasa dilakukan.
D. Metode Penelitian
1. Model Stuart Hall
Berdasarkan teori decoding Stuart Hall, maka penerimaan penonton terhadap tayangan OVJ dapat terbagi kepada tiga kode yaitu dominant dimana penonton menerima adegan kekerasan yang disodorkan oleh tayangan OVJ. Kemudian negotiated diamana penonton tidak sepenuhnya menerima adegan kekerasan yang disodorkan tapi mereka melakukan negosiasi dan adaptasi sesuai nilai-nilai yang dianutnya. Dan yang terakhir opposite, dimana penonton tidak menerima sepenuhnya adegan kekerasan yang diajukan OVJ dan cenderung menolaknya.
Setelah melakukan penelitian, maka peneliti akan menemukan tipe-tipe khalayak (informan) yang semua itu tergantung dari pemahaman dan latar belakang yang dianut mereka.
2. Informan
Peneliti memilih informan karena dilihat dari tingkat seringnya mereka nonton OVJ (semua informan menonton OVJ hampir setiap hari), faktor latar belakang pendidikan, kegiatan sehari-hari, ekonomi, dan latar belakang keluarga; dimana semua faktor itu dapat mempengaruhi pola pikir seseorang ketika mendapatkan sesuatu, dalam hal ini menonton tayangan televisi.
a. Informan 1 (Ibu Winda Wijayanti)
Ibu Winda merupakan ibu rumah tangga yang berusia 47 tahun. Ia lahir di Bantul, 23 Juli 1963, agama yang dianut hingga sekarang adalah Islam. Selain menjadi ibu rumah tangga ia tidak memiliki pekerjaan resmi lainnya. Suaminya bekerja sebagai pegawai tidak tetap, sering berpindah dari satu usaha ke usaha yang lain. Latar belakang pendikannya hanya sampai SMA. Saat ini sudah memiliki 3 orang anak, yang pertama sudah lulus D2 UNY, yang kedua baru lulus SMK, dan yang terakhir sedang duduk di kelas 2 SMA). Ibu Winda sering menonton tayangan OVJ, dalam seminggu ia bahkan hampir setiap hari menonton TV. Sebagaimana dalam penuturannya:
“Saya itu awalnya enggak suka nonton OVJ, saya lebih suka nonton sinetron. Tapi anak saya kan, si Jundan, suka marah kalau acaranya dipindahin! Meskipun lagi iklan lho mbak! Ya dari situ kan, saya juga jadi ikut nonton tho, lama kelamaan…eh… malah saya yang jadi suka juga. Ihihihihi.”
“Saya itu sebenarnya enggak terlalu sibuk, wong anak-anak saya wis gedhe kabeh. Jadi udah bisa ngurus masing-masing. Tapi ya…tetep aja mbak, makin gede biayanya juga makin gede! Ihihihihi. Nggak tau biayanya dari mana. Ya…daripada pusing terus sama biaya, saya nonton OVJ, biar nggak terlalu pusing.”
Dari penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa Ibu Winda merupakan ibu rumah tangga biasa pada umumnya. Karena pendapatan ekonomi yang pas-pasan bahkan kurang dari yang dibutuhkan, Ibu Winda menjadikan tayangan OVJ sebagai hiburan di sela-sela kesehariannya.
b. Informan 2 (Ibu Nurul Hasanuddin)
Ibu Nurul (47 tahun) merupakan ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai Manajer di Hotel BIFA – Gedong Kuning. Setiap hari Senin – Sabtu ia bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore, terkadang jika hotel sedang penuh ia bisa lembur hingga jam 9 malam. Suaminya bekerja sebagai distributor koran Kompas di Yogya. Latar belakang pendidikannya sampai S2-UII. Ia sudah memiliki 3 orang anak, yang pertama sedang menempuh kuliah S1 UMY, yang ke-2 sekolah kelas 2 SMA, dan yang terakhir baru lulus SD. Pada malam hari, ia selalu menyempatkan diri menonton tayangan OVJ untuk hiburan, sebagaimana dalam perbincangannya:
“Iya mbak, ibu suka…nonton Opera Van Java. Buat hiburan soalnya, setelah seharian di hotel kan, cape! Hahaha. Trus, acaranya rame, apalagi kalo Sule udah nyanyi. Hahaha…lucu e mbak! Di kantor juga ada beberapa rekan ibu yang kalo becanda niruin gaya Sule atau Azis, kalau sedang istirahat. Ah, di hotel itu lho mbaaakk…pada rame kalo karyawan saya udah ngobrolin itu (OVJ).”
“Ibu juga sambil nemenin si Hani ama Ashha, mereka kan, suka banget sama acara itu. Lagian ibu juga khawatir sama adegan-adegan yang nembus gabus itu lho mbak! Mesa’ke si Azis, gimaaana itu tulang pantatnya, apa nggak sakit ya? Hahaha..Anak-anak saya juga ampe teriak-teriak.”
Dari penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa Ibu Nurul merupakan ibu rumah tangga yang juga berkarier sebagai manager, latar belakang pendidikannya cukup baik hingga S2. Ibu Nurul menonton tayangan OVJ tidak hanya sekedar hiburan, namun juga sebagai bahan obrolan saat di kantor dan mendampingi anaknya yang masih SMA dan SD.
3. Metode Pengumpulan data
a. Teknik Wawancara mendalam (In-depth Interview)
Teknis pengumpulan data melalui indepth interview bertujuan untuk memperoleh reaksi penerimaan informan-informan atas isi penayangan (Hadi, 1996:6). Sehingga diharapkan dapat memperoleh informasi atau pendapat yang jujur dan terbuka dengan tema yang dipilih. Peneliti mulai interview dengan informan dengan mempertimbangan berbagai faktor berdasarkan latar belakang social budaya dan pendidikan yang mungkin mempengaruhi penerimaan, seperti bagaiamana aksi penayangan ditangkap.
Menurut Patton, wawancara mendalam yaitu meliputi menanyakan pertanyaan dengan format terbuka, mendengarkan dan merekamnya, dan kemudian menindak lanjuti dengan pertanyaan tambahan yang terkait (Patton dalam Parwito, 1991:182). Jenis wawancara dengan pertanyaan terbuka ini menggunakan seperangkat inti pertanyaan baku. Inti pertanyaan sama, namun kata-kata dan cara penyajian untuk setiap informan berbeda, disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka.
b. Studi Pustaka
Peneliti menggunakan teknik ini sebagai media untuk memperkaya wawancara (teori) yang relevan dan berkaitandengan objek yang akan diteliti. Peneliti melakukannya dengan cara membaca literatur yang terdapat dalam buku, intenet, dan tulisan lain yang berhubungan dengan topik penelitian.
E. Analisis
Opera Van Java merupakan pertunjukan komedi wayang yang diperankan oleh manusia. Parto berperan sebagai seorang dalang yang mempunyai wewenang untuk mengatur alur cerita di setiap adegan. Sedangkan para pemain yang bertindak sebagai wayang harus menuruti semua perintah yang diucapkan oleh dalang, oleh karena itu, para pemain dituntut untuk melakukan improvisasi adegan dan dialog dengan cepat.
Keunikan program ini adalah alur ceritanya yang hanya diketahui oleh sang dalang, sehingga reaksi dan aksi spontan para pemain akan mengalir dengan sendirinya. Selain itu, para wayang dapat protes jika merasa tidak sesuai dengan perintah atau petunjuk dalang. Keunikan tersebut merupakan nilai tambah bagi OVJ sebagai tayangan komedi yang menghibur masyarakat Indonesia saat ini (www.trans7.co.id).
Jika kita melihat tayangan OVJ yang bertujuan untuk menghibur masyarakat, semua informan mengerti dan paham jika tayangan OVJ merupakan tayangan komedi yang disajikan untuk menghibur masyarakat, sebagaimana dalam kutipan berikut:
Informan 1:
“Lawakan. Ya, untuk menambah hiburan, daripada stress. Ihihihihi.”
Informan 2 :
“Itu acara komedi kan mbak? Jalan ceritanya aja ngawur! Bikin ketawa terus! Masa ada pemain yang nggak tau jalan ceritanya?! Terus si Parto-nya ikut-ikutan ke panggung! Hahahaha.”
Dan kedua informan menyukai acara OVJ sebagai acara komedi. Sebagaimna dalam kutipun berikut:
Informan 1 :
“Suka! Saya suka sama OVJ, menghibur soalnya, bisa ngurangin stress. Hihihi.”
Informan 2 :
“Lha iya, ibu suka nonton OVJ. Lucu. Apalagi kalo Sule udah nyanyi, diikutin Parto, Andre, terus Azis yang ikutan joget.”
Namun saat ditanya tentang adanya adegan kekerasan yang timbul dalam tayangan OVJ, muncul perbedaan jawaban antara informan. Ibu Winda langsung menjawab dengan singkat kalau adegan seperti mendorong, memukul, meninju, atau menjatuhkan seseorang dalam tayangan tersebut adalah lawakan. Sebagaimana dalam kutipan:
“Lawakan. Yo… pokok e kui lawakan mbak. Ihihihi…”
Sedangkan bagi Ibu Nurul, ia setuju adegan tersebut merupakan salah satu dari adegan komedi, namun ia lebih menjawab hal itu dengan panjang lebar.
“Menurut ibu, ya, mungkin bagi pemeran OVJ itu termasuk adegan yang lucu…tapi tetep aja sih, ibu khawatir sama yang gitu-gituan tuh, kayak…nabrak-nabrak itu loh mba, yang pake gabus, terus kalo pas si nunung didorong ampe jatuh, itu kan sering ditampilin mba, kasian kan kalo anak-anak yang nonton. Macem-macem pikirannya kan kalo anak-anak?! Entar dikira kalo ditiruin, gimana? Bahaya… Trus ya mbak, kalau emang itu lawakan, kenapa tulisan yang dibawah itu loh, eh…anu, yang tulisannya alat yang digunakan adalah alat yang tidak berbahaya. Kalau itu lawakan, harusnya tulisannya kan, kayak…misalnya, adegan diatas adalah lawakan, dengan menggunakan alat yang tidak berbahaya! Atau kayak… adegan diatas tidak boleh ditiru tanpa sepengetahuan orang tua! Gitu… ”
Jika mengacu pada tipe decoding yang dikemukakan Stuart Hall, dari jawaban diatas kita dapat mengetahui jika informan 1 (Ibu Winda) termasuk tipe dominan. Ibu Winda menerima semua makna-makna yang disajikan tayangan OVJ adalah lawakan. Untuk alasan dan penjelasan yang lebih mendalam, mengapa Ibu Winda memilih pernyataan seperti itu, ia tidak dapat menjelaskan. Peneliti pun sulit untuk mencari pemahaman atau pernyataan Ibu Winda yang lebih dalam meskipun sudah dipancing dengan pertanyaan lain.
Sedangkan informan 2 (Ibu Nurul) merupakan tipe negosiasi. Ibu Nurul tidak menerima sepenuhnya adegan-adegan tersebut adalah lawakan. Karena menurut ia, tidak sesuai antara pemahaman orang dewasa dan orang yang belum dewasa dalam menyerap adegan tersebut, kecuali jika ada pendampingan yang baik. Kemudian Ibu Nurul pun menanggapi adanya kejanggalan dalam tayangan yang memperkuat pemikirannya, yaitu dalam teks tayangan OVJ yang bertuliskan “Alat yang digunakan dalam adegan ini merupakan alat yang tidak berbahaya” ketika sedang melakukan adegan kekerasan. Menurut ibu Nurul, seharusnya OVJ tetap mencantumkan tesks seperti bahwa adegan tersebut termasuk dari lawakan, tidak boleh ditiru tanpa sepengetahuan orang tua, dan sebagainya.
Kemudian saat ditanya lebih lanjut berkaitan adanya adegan kekerasan dalam OVJ, apakah informan memperbolehkankan anggota keluarganya untuk menonton OVJ, khususnya anak yang masih di bawah umur, jawaban Ibu Winda kurang setuju jika anak-anak turut menonton OVJ dan Ibu Nurul membolehkan asal ada pendamping. Berikut penjelasannya:
Informan 1 :
“Mmmm… ya mbak, untuk anak kecil bahaya itu, jadi makanya untuk dewasa aja. Kan udah pada ngerti.”
Informan 2 :
“Saya tidak melarang kalo anak-anak saya nonton OVJ. Karena saya kan mendampingi mereka. Saya juga menasihati anak-anak, mana adegan yang berbahaya, mana yang tidak. Meskipun itu pake gabus!”
Sekarang mari kita lihat pada latar belakang pendidikan kedua informan. Ibu Winda merupakan ibu rumah tangga lulusan SMK sedangkan ibu Nurul lulusan S2. Perbedaan pandangan melalui latar belakang pendidikan ini, jelas terlihat saat masing – masing informan menuturkan penjelasan. Ibu Winda hanya menuturkan seadanya tanpa pemahaman yang mendalam, sedangkan ibu Nurul menuturkan atau menjawab pertanyaan lebih mendalam dengan berbagai penjelasan-penjelasan dari beberapa aspek.
Kemudian dilihat dari perekenomian keluarga dan aktifitas informan yang dilakukan sehari-hari, selain untuk hiburan Ibu Winda menjadikan tayangan OVJ untuk mengurangi stress akibat masalah perekenomian yang mereka miliki. Sebagaimana dalam kutipan berikut:
“Saya itu sebenarnya enggak terlalu sibuk, wong anak-anak saya weis gedhe kabeh. Jadi udah bisa ngurus masing-masing. Tapi ya…tetep aja mbak, makin gede biayanya juga makin gede! Ihihihihi. Nggak tau biayanya dari mana. Ya…daripada pusing terus sama biaya, saya nonton OVJ, biar nggak terlalu pusing.”
Sedangkan bagi Ibu Nurul, selain untuk hiburan, nonton OVJ dilakukan sebagai bahan obrolan di kantor dan mendampingi anak-anak.
“Iya mbak, ibu suka…nonton Opera Van Java. Buat hiburan soalnya, setelah seharian di hotel kan, cape! Hahaha. Trus, acaranya rame, apalagi kalo Sule udah nyanyi. Hahaha…lucu e mbak! Di kantor juga ada beberapa rekan ibu yang kalo becanda niruin gaya Sule atau Azis, kalau sedang istirahat. Ah, di hotel itu lho mbaaakk…pada rame kalo karyawan saya udah ngobrolin itu (OVJ).”
“Saya tidak melarang kalo anak-anak saya nonton OVJ. Karena saya kan mendampingi mereka. Saya juga menasihati anak-anak, mana adegan yang berbahaya, mana yang tidak. Meskipun itu pake gabus!”
Begitupun jika dilihat dari faktor keluarga, Ibu Winda memiliki 3 orang anak yang menurutnya sudah dewasa (Lulus Kuliah, Lulus SMK, dan 2 SMA), sehingga Ibu Winda tidak perlu menjelaskan secara lebih detail adegan kekerasan yang tidak boleh untuk anak-anak. Beda halnya dengan Ibu Nurul yang menurutnya masih memiliki 2 orang anak yang masih dibawah umur (2 SMA dan Lulus SD), sehingga perlu mendampingi anak-anak mereka ketika sedang menonton OVJ.
Adapun pesan yang ingin mereka sampaikan jika seandainya bertemu dengan produser OVJ:
Informan 1 :
“Opo yo? Lha wes apik kok! Mmm…dinganu wae, ditambahin yang lucu-lucunya, yang beda dari yang udah ditayangin.”
Informan 2 :
“Sebaiknya dikurangi adegan-adegan yang sekiranya membahayakan. Mungkin bisa dicoba kali ya, lawakan yang…nggak pake adegan-adegan keras. Kasian sama pemainnya!”
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah informan 1 berada dalam tipe dominant, bahwa adegan kekerasan dalam tayangan OVJ merupakan lawakan meskipun ia tidak setuju jika anak kecil menonton tayangan tersebut. Sedangkan informan 2 berada dalam tipe negotiated, ia tidak sepenuhnya menerima adegan kekerasan dalam tayangan OVJ adalah lawakan, sehingga harus ada pendampingan.
Latar belakang pendidikan mempengaruhi penjelasan informan tentang tayangan OVJ; latar belakang ekenomi, pekerjaan, juga keluarga dapat mempengaruhi fungsi tayangan OVJ yang selain untuk acara hiburan. Semua faktor itu pula yang menentukan tipe decoding mereka.
Kedua informan tidak mencontoh apalagi mengikuti adegan mendorong, menjatuhkan seseorang, bahkan menjambak rambut yang ada dalam tayangan OVJ di kehidupan nyata. Informan hanya menonton dan mengambil unsur humor yang ada dalam tayangan tersebut.
F. Daftar Pustaka
Buku:
Kartini Kartono. 1977. Psikologi Wanita (Wanita sebagai Ibu dan Nenek). Bandung : Penerbit Alumni Bandung.
Rakhmat, Drs. Jalaluddin., 2007, Psikologi Komunikasi, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Junaedi, Fajar., 2007, Komunikasi Massa : Pengantar Teoritis, Yogyakarta : SANTUSA.
Littlejohn, Stephen W., 1996, Theories of Human Communication 5th Edition, California : Wadsworth Publishing.
Santoso, Thomas. 2002. Kekerasan Agama Tanpa Agama. Jakarta : Pustaka Utan Kayu.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Posrealitas : Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta : Penerbit Jalasutra.
Hayati, Elli Nur. 2000. Panduan untuk Pendamping Perempuan Korban Kekerasan : Konseling berwawasan Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar & Rifka Annisa.
Hall, Stuart. 1974. ‘The Television Discourse : Encoding and Decoding’, dalam Studies in Culture : An Introductory Reader, ed. Ann Gray and Jim Mc Guigan. London : Arnold Publisher, 1997.
Internet:
www.indorating.com
www.people.ucalgary.ca
INTERVIEW GUIDE
1. Nama, usia, Tempat dan tanggal lahir, alamat?
2. Agama yang dianut sekarang?
3. Apa pekerjaan atau aktifitas ibu disamping sebagai ibu umah tangga?
4. Pendidikan terakhir?
5. Jumlah anak yang dimiliki sekarang?
6. Pendidikan terakhir yang ditempuh anak?
7. Bisakah ibu bercerita bagaimana latar belakang ibu?
8. Ibu suka menonton TV tidak?
9. Kapan biasanya ibu meluangkan waktu untuk menonton TV?
10. Menurut ibu, acara TV yang bagus itu seperti apa?
11. Ibu suka nonton acara OVJ tidak?
12. Dalam seminggu biasanya berapa kali ibu nonton OVJ?
13. Apa yang ibu ketahui tentang acara OVJ?
14. Bagaimana pendapat ibu tentang acara tersebut? Kenapa?
15. Apa yang berbeda dari acara OVJ dengan acara komedi lainnya?
16. Apakah tayangan OVJ merupakan tayangan komedi yang dibutuhkan ibu saat ini?
17. Kalau ibu nonton OVJ, paling suka adegan yang mana?
18. Bagaimana pendapat ibu tentang adegan-adegan yang dilakukan pemain OVJ, sebagai acara komedi?
19. Ketika ibu menonton adegan pemain menjebak pemain lain hingga terjatuh dari gabus, apakah itu termasuk lawakan atau kekerasan?
20. Ketika menonton adegan pemain mendorong pemain lain hingga terjatuh, apakah menurut ibu itu termasuk lawakan atau kekerasan?
21. Apakah ibu pernah atau suka meniru gaya lawakan OVJ yang menggunakan lawakan fisik?
22. Selain itu (no. 21), hal apa saja yang biasanya ibu ambil atau tiru dari tayangan OVJ?
23. Apakah ada kekhawatiran dari ibu sendiri ketika tayangan tersebut ditonton oleh anak-anak ibu?
24. Pesan apa yang ibu tangkap setelah menonton tayangan OVJ?
25. Dari adegan kekerasan itu, apakah ibu mengambil atau mencontoh semua adegan tersebut, jika bercanda di kehidupan sehari-hari? Kenapa?
26. Pesan apa yang ingin ibu sampaikan jika bertemu dengan produser OVJ?
Notes: Buat Temen-temen... jangan lupa buat ngasih komentar ya? Kalau mau ngutip, kutip dengan baik dan benar ya... Selamat Belajar! ^^
Humas PT. KAI dalam menangani Pemberitaan
Disadari atau tidak, kebutuhan akan jasa selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena itulah banyak orang yang memanfaatkan kebutuhan jasa, salah satunya dijadikan ladang bisnis oleh berbagai perusahan. Kategori layanan jasa yang diberikan pun bervariasi, contoh: jasa logistik, pengiriman barang, transportasi, administrasi, dll. Hingga saat ini, perusahaan yang bergerak di bidang jasa semakin meluas sesuai dengan kebutuhan manusia yang semakin banyak pula.
PT. Kereta Api Indonseia (KAI) merupakan salah satu perusahaan jasa yang bergerak di bidang transportasi. Jalur yang tersambung semakin banyak begitupun dengan armada yang dimilikinya. Meskipun pelayanan dan fasilitasi semakin tercukupi, PT. KAI perlu memperhatikan cobaan yang timbul semakin banyak pula. Berbagai pelanggaran pun tidak luput dari kinerja PT. KAI, sehingga profesionalitas manajemen perusahaan sangat dibutuhkan untuk menyelesaikannya dengan baik dan tidak memberatkan kepada satu pihak. Peran humas PT. KAI selaku ‘polisi arus informasi dan komunikasi’ wajib eksis agar PT. KAI tetap menarik dan diminati stakeholder. Pelanggaran yang terjadi mayoritas tidak hanya berada pada ranah pelanggaran bisnis, namun terjadi pula dalam ranah komunikasi (pemberitaan) yang dapat disebabkan oleh miss-communication antar pihak yang terkait. Humas PT.KAI harus dapat mengelola arus komunikasi dan informasi pada media yang bersangkutan, sehingga tidak menimbulkan berita yang simpang siur.
Kerangka Teori
Perusahaan Jasa
Kotler (2000) mendefinisikan jasa adalah berbagai tindakan atau manfaat yang ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak dapat dilihat dan tidak menghasilkan hak milik terhadap sesuatu, walaupun begitu jasa biasa berhubungan dalam bentuk fisik maupun tidak.
Adapun karakteristik jasa adalah intangibility (tidak berwujud), inseparability (tidak dapat dipisahkan), variability / heterogeneity (berubah-ubah), perishability (tidak tahan lama), lack of ownership (kepemilikan terbatas).
Menurut Zeithmal dan Bitner, "Jasa adalah seluruh kegiatan yang meliputi aktifitas ekonomi yang hasilnya bukan merupakan produk fisik atau konstruksi, umumnya dikonsumsi sekaligus pada saat diproduksi dan memberikan nilai tambah dalam berbagai bentuk (seperti : kenyamanan, hiburan, ketepatan waktu, kemudahan dan kesehatan) yang pada dasarnya tidak berwujud."
Etika Humas
Dalam menjalani tugas sebagai seorang humas, sebaiknya mentaati etika-etika antara lain sebagai berikut (IPRA):
Menjadi good communicator untuk public internal dan eksternal perusahaan.
Jujur dijadikan sebagai landasan utamanya.
Memberikan kepada bawahan / karyawan adanya sense of belonging dan sense of wanted pada perusahaannya (membuat mereka diakui / dibutuhkan).
Menyampaikan informasi-informasi penting kepada anggota dan kelompok yang berkepentingan.
Menghormati prinsip-prinsip rasa hormat terhadap nilai-nilai manusia
Menguasai teknik dan cara penanggulangan kasus-kasus, sehingga dapat memberikan keputusan, dan pertimbangan secara bijaksana.
Mengenal batas-batas yang berdasarkan pada moralitas dalam profesinya.
Penuh dedikasi dalam menjalankan profesi.
Penanganan Humas PT. KAI dalam Pemberitaan
Hampir di setiap pemberitaan yang terjadi pada PT. KAI, seperti pelanggaran dan kecelakaan, humas dari PT. KAI cabang operasi tersebut selalu memberikan pernyataan. Contohnya pada kasus tabrakan yang terjadi pada tahun 2001 antara antara KA Gaya Baru jurusan Gubeng-Pasar Senen dengan KA Empu Jaya jurusan Jakarta-Yogyakarta. Humas PT Kereta Api Indonesia (PT. KAI), Gatot Tri Wibowo mengatakan bahwa hal ini diakibatkan oleh kurangnya kedisiplinan dari awak kereta api sendiri.
Pada saat itu terjadi, memang benar tindakan humas PT.KAI yaitu memberikan konformasi langsung, dan menyadari kesalahan yang terjadi. Namun sayangnya pernyataan-pernyataan awal yang diberikan humas PT. KAI tidak berkelanjutan, pernyataan tersebut hanyalah semacam back-up sementara untuk meredam isu yang tengah terjadi. Padahal salah satu etika komunikasi seorang humas harus dapat menguasai teknik dan cara penanggulangan kasus, sehingga dapat memberikan keputusan, dan pertimbangan secara bijaksana. Begitupun dengan adanya kasus penumpang gelap, jadwal pemberangkatan yang tidak tepat, humas PT. KAI Daop yang bersangkutan memang memberikan pernyataan yang ‘menenangkan’ namun tidak memberikan pernyataan yang ‘menyelesaikan’, seolah tidak ada tanggapan dari pihak manajemen PT. KAI untuk menyelesaikan kasus ini.
Kemudian pada kasus yang baru terjadi yaitu gratifikasi PT Optima Kharya Capital Management, sejauh ini belum ada pihak humas PT. KAI yang berkomentar lebih lanjut tentang masalah tersebut. Hal ini dianggap wajar karena kasus tersbut belum sampai pada titik penyelesaiannya.
Beberapa pertanyaan masyarakat seperti kenaikan tarif yang selalu berubah-ubah, belum ada informasi officially dari pihak PT. KAI, tidak sedikit masyarakat yang bertanya-tanya kenapa hal itu terjadi. Penjelasan kasir dengan ‘Oh itu sudah dari peraturannya e mbak.’ tidak cukup menjawab pertanyaan mengapa terjadi kenaikan tarif yang berubah-ubah. Humas PT. KAI seharusnya memberikan keterangan yang jelas dan logis, karena informasi tersebut cukup penting dan seorang humas harus mampu menyampaikan informasi penting kepada anggota dan kelompok yang berkepentingan, dalam hal ini pelanggan.
Perlu diketahui pula, opini – opini masyarakat yang muncul dalam surat pembaca perlu diperhatikan, akan lebih baik jika diberi tanggapan humas PT. KAI. Karena hal itu sesuai dengan etika profesi humas yaitu menghormati prinsip-prinsip rasa hormat terhadap nilai-nilai manusia (publik).
Kesimpulan dan Rekomendasi
Hingga sampai saat ini, humas PT. KAI cukup intens dalam memberikan tanggapan terhadap pemberitaan di media. Namun, jika PT. KAI (melalui humasnya) tidak mampu memberikan informasi secara lebih detail kepada publik atau pelanggannya, maka jasa transportasi PT. KAI tidak akan dilirik atau bahkan diminati masyarakat. Masyarakat sekarang sudah proaktif dalam meneliti sebuah kasus.
Daftar Pustaka
Kotler, Philip. 2000. Marketing Management. London : Prentice-Hall.
Notes: Buat temen-temen yang mau ngutip, tolong kutip dengan baik dan benar. Jangan lupa untuk izin dengan menulis pada kolom comment, key? ^^
Jumat, 02 Oktober 2009
Saking banyaknya cucu yang hadir, bapak saya tidur di bawah kolong meja.

Tanggal 3 Syawal. Hari kumpul keluarga besar dari ibu. Saat berita acara dibacakan, teh Ani (sepupuku yang bertugas menjadi MC) membacakan Up Date Family News terbaru, salah satunya adalah:
“Sekarang jumlah cucu nenek Sambong ada 88 orang,”
CUCU doang! Wew.
Berarti angka tersebut belum ditambah jumlah:
1. Anak dari nenek, juga
2. Jumlah cicit-cicitnya.
Pantesan rame banget… tapi ya alhamdulillah, saya bersyukur karena saya bisa bertemu dengan mereka semua. Karena mungkin saya orang yang tinggal jauh dari keluarga. Mereka di Bandung sedangkan saya di Jogja. Kebanyakan yang hadir memang anak-anak, balita, dan para bayi. Waduh… Nggak kerasa… saya sudah tumbuh sejauh ini…
Pagi hari, taushiyah dari penyelenggara acara, yaitu Mang Uum. Beliau adalah adik ibuku. Taushiyah nya menyenangkan sekali. Tentang potensi, semangat, kehidupan, dan semuanya itu akan berujung pada kematian, dimana segala apa yang kita kerjakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh SWT. Lalu dilanjutkan acara makan-makan, wew, dari sejak pertama kali saya menginjakan kaki di Bandung, sumpah… bawaannya makaaaannnn terus!! Maklum, udah lama saya tidak makan makanan khas Sunda.
Menjelang siang, saatnya acara hiburan. Berbagai permainan digelar. Semua anggota keluarga ikut bermain.
Termasuk saya.
Dan, yang paling mengagetkan adalah kakak saya yang laki-laki, Haidar. Dia itu pendiam loh! Serius. Dia tipikal orang yang tidak banyak bicara, tapi banyak bekerja. Namun, saat permainan joget sambil nahan balon dikepala, yang duet sama Ikbal (adik saya), lincah bangeeeettt….
Semua keluargaku yang lain pada ngasih komentar, “Ya ampun A Idang, meuni heboh ternyata (Ya ampun a Idang heboh banget).”
Ibu saya bengong, melihat anak cowok pertamanya joget-joget kayak gitu.
Saat sore hari tiba, para anggota keluarga mulai kelelahan hingga banyak yang tiduran di lantai dan kursi. Berhubung kamar yang tersedia tidak dapat menampung seluruh anggota keluarga, banyak ponakan, sepupu, Wa, Mang, dan Bibi yang hunting lantai kosong di beberapa ruangan. Tempat yang dipakai adalah ruang tamu, ruang tengah, ruang nonton TV. Semua ruangan sebelumnya telah disulap dengan mengeluarkan kursi ke halaman, dan lantai telah dilapisi karpet-karpet hangat. Kami semua, apalagi yang anak-anak beramai-ramai menempati tempat yang PW, yang dekat dengan kipas angin.
Namun ketika saya hendak rebahan dekat Dira, adik laki-laki Ibu saya, mang Dede berteriak,
“Tuh liat! Pa Udin mah tempatna ge asik.”
Tentu saja semua orang mencari dimana bapak rebahan, dan ternyata… di kolong meja bo! Satu persatu semua orang tertawa melihat polah bapak saya,
“Abis berdesak-desakan gitu, mending disini, luas, dingin lagi...” Jawab bapak saya sambil tertawa pula.
Ya Ampun bapak.... ada-ada aja tingkahnya…
Posko Mudik Rame XL
Banyak sekali fenomena unik yang dapat kita temukan menjelang datangnya hari Lebaran, seperti penuhnya pusat perbelanjaan, tumpahnya pengemis jalanan, hingga ‘angpao’ yang tidak diberikan kepada anak kecil saja, namun juga untuk dewasa (segala usia). Bagi mereka yang berada di luar kampung halaman biasanya melaksanakan mudik, meski mendapat resiko macet hingga berkilo-kilometer panjangnya.
Namun kali ini pemudik dapat menikmati kemacetan yang terjadi menjelang lebaran. Kenapa? Karena banyak sekali fasilitas plus yang dapat mereka nikmati saat berada dalam perjalanan. Salah satunya fasilitas posko mudik dari perusahaan telekomunikasi yaitu PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) melalui program XL Mangkal Mudik Rame, posko mudik dengan berbagai layanan gratis dari XL yang menghadirkan berbagai layanan gratis berupa layanan Fast Facilities, Fast Refreshment serta Fast Shopping dan juga Fast Updated Mudik Traffic Info.
Setelah melakasanakan program CSR bulan ramadhan yang bekerjasama dengan Rumah Dunia sebelumnya, XL mengadakan program XL Mangkal Mudik Rame yang diresmikan oleh Direktur Marketing XL, Nicanor V Santiago pada tanggal 15 September 2009 di Cirebon. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian XL kepada umat muslim yang sedang bermudik. Di XL Mangkal Mudik Rame pelanggan dapat beristirahat dan menikmati berbagai fasilitas dari XL serta mendapatkan info lalu lintas. Sehingga pemudik dapat kembali melanjutkan perjalanan dengan nyaman.
Khusus untuk Fast Updated Mudik Traffic Info XL bekerjasama dengan Kepolisian dalam memberikan akses informasi mengenai trafik selama perjalanan sehingga pelanggan bisa mudik dengan aman dan cepat. Selain itu XL Mangkal Mudik Rame juga didukung oleh beberapa mitra antara lain Joy Green Tea (Sostro Grup) & Mie Sedaap (Wings group).
XL Mangkal Mudik Rame hadir mulai tanggal 15–20 September dan 23-27 September 2009 di 27 lokasi di jalur utama arus mudik di Jawa, Sumatra dan Bali. Lokasi tersebut antara lain berada di:
· Terminal (Pulogadung, Kampung Rambutan, Kalideres, Lebak Bulus dan Cicaheum).
· Stasiun (Gambir dan Senin).
· Pelabuhan (Merak, Bakauheni, dan Gilimanuk).
Sementara posko utama di sepanjang jalur Jakarta hingga Jawa Barat antara lain derada di:
· Tol Cikampek (Rest Area km 39)
· Masjid At-Tawun Puncak
· SPBU Nagrek (34-40331)
· SPBU Subang (34-41217)
· SPBU Indramayu (34-45219)
· Masjid Agung Cirebon
· SPBU Kanci (34-45138).
Untuk jalur utama di sepanjang Jawa Tengah hingga Jawa Timur adalah:
· Rumah Makan atau SPBU di Tegal
· Pati (SPBU Hadi Polo)
· Prupuk (SPBU Aji Barang)
· Kebumen (RM Lestari)
· Bawean (Bintang Restoran)
· Kendal (RM Sendang Ungu)
· Madiun – Ngawi (RM Duta Dua)
· Jembatan Suramadu.
Sedangkan di Sumatera adalah:
· Jalur Palembang – Kayu Agung (RM Pagi Sore)
· Bukittinggi – Padang (RM Rindu Alam).
Fasilitas yang bisa dinikmati oleh pemudik antara lain dengan dukungan fasilitas VAS (Value Added Services) download corner yang akan memberikan informasi konten apa saja yang bisa didapat dari ponsel pelanggan seperti m-banking, download content hiburan musik maupun film, informasi lokasi tertentu seperti restoran hotel, ATM (Automatic Teller Machine) dan lain-lain. Selain itu terdapat fasilitas informasi trafik sehingga pemudik dapat mengetahui lokasi mana saja yang terjebak macet dan lokasi mana yang dapat dilalui dengan aman dan cepat. Begitu pula dengan kebutuhan untuk menelepon yang dapat dilakukan dengan fasilitas telepon gratis sehingga pelanggan dapat mengetahui kabar atau informasi keluarga selama perjalanan. Disini juga dapat dilakukan pengisian baterai gratis bagi pelanggan yang kehabisan baterai handphone selama perjalanan.
Posko ini juga dilengkapi fasiitas fast shopping, dimana pengunjung dapat membeli produk-produk bundling dengan harga pas, yang selama ini hanya bisa diperoleh di XL Center. Juga pembelian merchandise yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh bagi keluarga di rumah. Posko juga menyediakan produk dari para partner XL. Selain itu terdapat juga fasilitas fast refreshment yakni handuk basah gratis bagi para pemudik serta makanan ringan yang dapat dinikmati untuk berbuka puasa.
Menyenangkan sekali bukan?